Orang gila atau yang
biasa disebut dengan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) kerap dipandang sebelah
mata dan diabaikan oleh keluarganya. Namun tidak demikian dengan Novia Farina,
tanpa bantuan dari pihak lain, dia berusaha merangkul ODGJ dan meraatnya dengan
penuh cinta serta mengupayakannya ODGJ menjalani kehidupannya sebagai manusia
biasa.
SULIKI, Maestroinfo—Tahun 1995 itu
usia Novia Farina masih sangat muda dan masih rentan tergoyahkan oleh “kilauan
kehidupan dunia”. Namun tidak begitu bagi wanita yang lahir pada Hari Pahlawan 10
November, tahun 1972 ini. Ternyata gejolak remajanya tak gampang bergelora !
Dalam usia yang masih muda itu dia bahkan lebih banyak mengisi hari-harinya
dengan berbagai kegitan sosial.
Sesuatu yang luar biasa juga ditunjukan
wanita yang kesehariannya melalui hidup di Nagari Sungai Rimbang, Kecamatan
Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat ini. Dalam usia remajanya,
Novia Farina sudah dikenal sebagai kader Pos Pelayanan Keluarga Berencana -
Kesehatan Terpadu (Posyandu), yaitu sebuah kegiatan kesehatan dasar yang
diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas
kesehatan.
Posyandu ini pun merupakan kegiatan
swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa,
tanpa berharap imbalan materi.
Mana kala berkecimpung di kegiatan
sosial itu, Eva, begitu wanita ini disapa, matanya “mulai terbuka”, sebab di
lapangan banyak ketimpangan sosial yang ia temukan.
Entah memang kebetulan atau memang telah
menjadi takdir Allah Azza Wa Jalla, “darah kepahlawanan” ternyata pun mengalir
dalam tubuh wanita kelahiran 10 November (Hari Pahlawan) ini. Sebab, dari
setiap persoalan yang ia temui, Eva tak hendak berdiam diri belaka, atau hanya
sekedar mengkomat kamitkan kepeduliannya. Sebisa pun ia akan berjuang
mencarikan solusi.
Hari berbilang tahun pun berganti,
memasuki tahun 2005 Novia Farina memutuskan untuk menjadi pekerja sosial
masyarakat (PSM) sebagai Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan. Sebagai pekerja
sosial saat itu Novi berupaya “membuka hatinya” untuk memberikan cinta yang lebih
baik kepada orang dengan ganguan jiwa (ODGJ).
Sensitivitas hatinya itu mengantarkan Eva
mengambil langkah pasti untuk merangkul dan merawat ODGJ di daerahnya dengan
segenap cinta dan kasih sayang.
Namun sebelum melangkah ke arah yang
bagi sebagian besar orang masih tabu itu, ibu dari seorang putri yang saat ini baru
kuliah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) ini terlebih dulu
berkonsultasi dan koordinasi dengan pihak puskesmas yang dekat rumahnya.
Semenjek menjadi pekerja sosial masyarakat
itu kemampuan Novia Farina untuk menangkap inspirasi dari segala peristiwa yang
dilewatinya sehari-hari mulai terasah.
Bahkan apa yang dilakukannya itu pun
terkadang banyak membuat orang tercengang dan mampu mempersepsikan berbagai
tanda dan petanda secara tak biasa.
Langkah yang dilakukannya dalam
merangkul orang dengan gangguan jiwa itu kadang membuat orang bingung bagaimana
ide-ide mencengangkan dan tidak terduga itu bisa sampai di pikiran Novia Farina,
karena apa yang dilakukannya itu tidak menghasilkan sesuatu dalam bentuk materi
bagi dia dan keluarganya.
Namun ternyata bukan materi yang dicari Eva,
rasa kemanusian yang mengalir di tubuh dan raganya membuat ia bergerak hanya
mengandalkan semangat, dan tanpa dukungan dana dari siapa-siapa.
Ketiadaan biaya tak membuat dia patah
arang dan berkeluhkesah dalam ketiadaan. Dengan segenap daya upaya yang
dimilikinya, Eva pun mulai berjuang mencari dan mengetuk nurani orang-orang
yang juga memiliki kepedulian terhadap ODGJ.
Sembari menanti datangnya rasa empati
dan kepedulian dari berbagai pihak, Eva terus merawat orang dengan ganguan jiwa
yang dirangkulnya di surau milik keluarganya selanjutnya pindah ke puskesmas
dekat rumahnya.
Dalam perjalanan berikutnya, ternyata Eva
tak obahnya bagai sepotong besi, ditepa dan diuji di perapian. Ternyata tak
mudah mengetuk nurani orang-orang agar peduli pada orang dengan gangguan jiwa,
buktinya sangat sedikit orang-orang yang menaruh empati.
Meski harus menanti selama belasan
tahun, akhirnya pada tahun 2018 ia dapat dukungan dari Kementrian Sosial dengan
memfasilitasi lahirnya Unit Informasi Layanan Sosial (UILS) Rumah Idaman, yang
merupakan satu-satunya di Sumatera Barat dan hanya tiga di Indonesia.
Di Rumah Idaman ini kata Eva, dia mulai
bisa berlega dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada orang dengan gangguan
jiwa.
Ia mengatakan, di Rumah Idaman itu pula,
dari hari Senin sampai Jumat, masing-masing ODGJ memiliki kegiatan, seperti keterampilan
memasak, mengaji dan membaca ayat pendek, mengikuti kegiatan kesenian dan keterampilan,
membuat sapu dan kerajinan tangan lainnya, kegiatan pertanian serta berbagai
kegiatan positif lainnya.
Tak hanya itu kata Eva, ODGJ yang
dirangkulnya itu juga diajari prilaku kepemimpinan dan manajemen di alam
terbuka, yang dikenal dengan istilah outbond.
Kegiatan itu katanya dilakukan dua kali dalam setahun, yang didampingi pihak
Dinas Sosial Provinsi Sumbar.
Lagi-lagi Novia Farina kembali
berhadapan dengan berbagai kendala. Untuk membawa 20 ODGJ yang dirawatnya ke
lokasi outbond ternyata tak mudah. Ia
harus bertemu dengan kendala transportasi !
Ia pun mengakui tak mungkin meminta
biaya pada keluarga ODGJ yang dirawatnya, sebab rata-rata ODGJ itu berasal dari
keluarga kurang mampu dan jauh dari tempat kegiatan.
Novi juga mengakui bahwa kurangnya
dukungan keluarga membuat ODGJ kembali kambuh. Untuk itu katanya, dia berusaha
bekerjasama dengan lintas sektoral yang terkait, bila ditemukan ODGJ yang
kambuh dan hidup kembali di jalan, agar untuk mengamankannya sementara di
kantor Polsek.
Bagi ODGJ yang sudah sembuh kata Eva,
mereka akan dipulangkan pada pihak keluarga, namun dengan catatan harus setiap
hari kontrol ke Rumah Idaman. Akan tetapi kata dia menambahkan, bagi ODGJ yang
sudah sembuh tidak bisa bolak-balik ke Rumah Idaman, maka dia yang akan
mengunjunginya (home visit).
Ia juga mengakui bahwa kurangnya
dukungan dari keluarga dan lingkungan, akhirnya membuat ODGJ kambuh kembali. Untuk
itu ia mengimbau pihak keluarga dan masyarakat agar memberikan perhatian pada
ODGJ, agar mereka benar-benar bisa hidup layak. (Febriansyah Fahlevi)

