Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan

Mudik Lebaran, Haruskah?

No Comments

Pada 11 September 2010 ini, seluruh umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Agar bisa berlebaran di kampung halaman, orang rela antri dan terjebak di perjalanan. Bahkan, mereka rela menghabiskan uang yang mereka kumpulkan dari bekerja keras selama setahun. Apakah lebaran di kampung halaman sebuah keharusan?

Meski Syafrida Yunis (42 tahun) berpenghasilan pas-pasan di Kota Bogor-Provinsi Jawa Barat, namun hampir setiap hari raya Idul Fitri (lebaran), ibu yang memiliki dua orang putra ini, berupaya pulang kampung ke Kota Padang-Provinsi Sumatera Barat.

Di kampung halaman sendiri, waktu yang dapat dimanfaatkan Syafrida pun tak berapa lama. Bila dihitung-hitung, mungkin Syafrida bersama dua orang anaknya lebih banyak menghabiskan waktu di perjalanan. Terkadang, bila tak dapat tiket bus jurusan Bogor – Padang, ia terpakasa ke Jakarta dulu. Dari Jakarta baru menuju Kota Padang.
Lantaran tingkat arus mudik juga membludak—terutama menjelang H 7—maka tak jarang pula ia terperangkap di pelabuhan penyeberang Merak. Pengalaman itu, hampir tiap tahun dialami Syafrida. Namun anehnya, ia bersama ke dua orang anaknya tak pernah kapok untuk mudik lebaran.

Kenyataan yang sama juga tak jarang dialami Irwandi (40 tahun), tiap kali pulang mudik lebaran. Hampir tiap tahun pria yang berprofesi sebagai pedangang kaki lima di Tanah Abang-Jakarta ini memboyong istrinya-Neneng (40 tahun) dan empat orang anaknya ke kampung halamannya di Batang Kapeh-Kabupaten Pesisir Selatan.

Bahkan kata pria yang akrab disapa Ujang ini, ia malah sengaja bekerja keras untuk mendapatkan uang, agar bisa berlebaran di kampung halaman. Dikatakannya, untuk menghemat pengeluaran, biasanya ia sengaja merental mobil.

“Dengan mobil rental itu, langkah kami menjadi ‘ringan’. Lagi pula, saya dan keluarga bisa sedikit santai,” kata Ujang.

Muhammad Ruslan (55 tahun), seorang pedagang Nasi Ampera di Jakarta, juga punya kebiasan yang sama. Bahkan Urang Sumando Muaro Labuah-Kabupaten Solok Selatan ini, tanpa sadar uang dikumpulkan selama setahun, bakal habis untuk lebaran yang hanya berlangsung beberapa hari saja.

Coba bayangkan, katanya dari tahun ke tahun (setiap lebaran), ongkos angkutan (bus, pesawat dan kapal laut) sangatlah mahal. “Bahkan, untuk memperolehnya, kita harus mendaftar dulu jauh-jauh hari,” ungkap Muhammad Ruslan.

Dikatakan pria yang memiliki 3 orang putra putri ini, karena takut tak kebahagian tiket, ia lebih sering merental mobil sewaan. Lagi pula, dengan mobil sewaan itu akan menambah nilai plus terhadap dirinya saat pulang kampung.

”Bilo pulang jo oto, urang di kampuang akan manyangko awak alah sukses di rantau urang. (Bila pulang dengan mobil, orang di kampung akan mengira kita telah meraih sukses di rantau orang,” ujar pria kelahiran Solok, 12 Juli 1955 ini.

Fenomena rame-rame mudik lebaran ini, mendapat tanggapan dari pengamat sosial Universitas Ekasakti Padang Provinsi Sumatra Barat-Drs Tarma Sartima MSi Kata Tarma, fenomena mudik lebaran ini termasuk kebiasaan yang unik. Sebab, bisa dibayangkan berapa tabungan selama beberapa bulan kerja, akhirnya berpindah format dalam bentuk konsumsi sandang, pangan atau sekedar oleh-oleh bagi keluarga atau kenalan di kampung halaman.

“Melihat kenyataan ini, setidaknya realita menunjukkan bahwa sejarah mengajarkan pada kita bahwa himbauan hampir tak pernah efektif. Kendati begitu, baiknya juga kita mengingat bahwa tradisi pengeluaran berlebihan tersebut bukanlah sebuah kebiasaan yang sehat,” kata Tarma Sartima.

Bila melihat kenyataan mudik lebaran itu, kata Tarma lagi, akan muncul pertanyaan; ‘bukankah lebih baik bila uang yang ada yang telah dikumpulkan sejak lama itu, digunakan untuk aktivitas produktif’.

“Saya rasa, jika harus ‘buang-buang uang tak karuan’, mungkin ada baiknya uang tersebut dikirimkan saja ke kampung halaman untuk sanak saudara dan handai taulan,” ungkap pria jebolan Universitas Gajah Mada ini sambil tersenyum.

Paling tidak uang itu, kata matan Dekan FISIP Universitas Eka Sakti Padang ini, dapat mendorong perekonomian pedesaan. Sebab, dalam realitanya, kebiasan menghabis-habiskan uang itu, sama tak membawa manfaat positif. Ia hanya memberikan justifikasi pada konsumerisme.
Febriansyah Fahlevi

Penyu itu Mulai Punah

No Comments

Kegiatan penangkapan penyu maupun pengambilan telornya, sulit untuk dikontrol. Sebab, pada umumnya daerah penangkapannya berada di kawasan perairan terpencil (pulau). Kurangnya sarana dan lemahnya pengawasan, membuat populasi penyu menuju kepunahan.

Berkeliling di laut Sumbar, selain mengasyikan juga bisa menambah khasanah ilmu pengetahuan. Febi Fernando (20 tahun) seorang mahasiswa Jurusan Teknik Mesin di Akademi Teknologi Padang, merasakan hal itu.

Selama berkeliling itu, ia menemukan beberapa lokasi pendaratan penyu. Lokasi itu terdapat di Kabupaten Pasaman, Pesisir Selatan, Padang Pariaman dan Kota Padang-Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Bahkan, ia juga menemukan kegiatan penangkapan penyu dan pengambilan telur penyu yang dilakukan oleh masyarakat.

Awalnya Febi tidak begitu mengetahui secara persis kenapa penyu itu ditangkap. Yang diketahui oleh mahasiswa yang tinggal di Simpang Tinju Lapai Padang ini hanyalah sebatas telur penyu, dimana telur itu bisa jadi santapan manusia dan mengandung nilai gizi yang tinggi.

Namun, karena pernah menyaksikan ada kegiatan penangkapan penyu yang dilakukan masyarakat, muncul berbagai pertanyaan dibenaknya. Akhirnya, ia mencari tahu tentang penyu tersebut.

Begitu terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa tingginya harga jual penyu, mendorong berbagai pihak untuk menangkap dan memperdagangkan penyu. Bahkan ia juga mendapat informasi, banyak tujuan yang ada dari kegiatan penangkapan penyu tersebut. Diantaranya, dagingnya dimanfaatkan untuk santapan lezat, kerapasnya diambil untuk dijadikan suvenir serta berbagai keperluan lainnya.

Selain informasi tentang kegiatan penangkapan penyu itu, Febi Fernando juga mendapat informasi tentang banyaknya kegiatan pengumpulan penyu yang dilakukan secara tidak syah dan tidak berpedoman pada kaidah pelestarian, yang dapat mengakibatkan terancamnya populasi penyu di alam.

Mahasiswa asal Provinsi Riau ini juga mendapatkan informasi, populasi penyu sering terusik oleh aktivitas perikanan. Dikabarkan, banyak penyu yang mati dan terluka dalam jaring nelayan.

Realita yang dijumpai Febi Fernando itu, diakui oleh Kasubdin Pengendalian Sumber Daya Dinas Kelautan Perikanan Sumbar-Ir Albert Krisdiarto didampingi Kasi Konservasi Resisuriati Spi Msi. Kata mereka, memang sumberdaya genetik yang akhir-akhir ini cenderung dieksploitasi secara berlebihan, adalah penyu laut.

Dampak dari kegiatan eksploitasi itu, kata Albert, membuat populasi penyu yang ada di alam semakin berkurang.

“Penurunan populasi penyu itu disebabkan oleh beberapa hal, antara lain; pengambilan penyu dewasa untuk diperdagangkan. Selain itu, pengambilan telur penyu untuk makan makin meningkat, sehingga untuk ditetaskan nyaris tak tersisa. Disamping itu, aturan pemerintah terhadap paraktek pengelolaan penyu belum jelas, serta pengontrolan sulit dilakukan lantaran daerah penangkapannya terletak di kawasan perairan terpencil dan sulit dijangkau,” papar Albert.

Dikatakan, bila kegiatan penangkapan penyu yang tanpa mengindahkan kelestarian terus saja berlangsung, maka dikhawatirkan akan menimbulkan kelangkaan jenis, pada akhirnya akan menuju kepunahan.

Ketika disinggung apa upaya Dinas Kelautan Peikanan Sumbar dalam mengatasi persoalan tersebut, Albert didamping Resi memberikan penjelasannya. Katannya, untuk mengatasi persoalan itu, diperlukan upaya pengelolaan dan pengembangan sumber daya penyu melalui upaya konservasi di alam. Dengan demikian, akan tercapai keseimbangan antara tingkat pemanfaatan dengan pertambahan tumbuhnya populasi, dengan melakukan upaya pelestarian penyu agar pemanfaatan sumberdaya penyu dapat berlangsung secara terus menerus.

Lebih jauh diungkapkan Albert, di Sumbar terdapat sebanyak 32 lokasi pendaratan penyu yang tersebar di Kabupaten Pasaman, Pesisir Selatan, Padang Pariaman dan Kota Padang.

Dari sekian banyak lokasi pendaratan penyu itu, Kata Albert, yang terbesar terdapat di Pesisir Selatan, yaitu Pulau Penyu, Pulau Beringin, Pulau Karabak Besar, Pulau Karabak Kecil, Pulau Katang-Katang serta Pulau Gosong.

“Di pulau tersebut terdapat 3 jenis penyu yang selalu singgah dan naik di sepanjang pantai Sumbar. Ketiga jenis penyu itu adalah Penyu Belimbing (dermochelys coriacea), Penyu Sisik (eretmochelys imbricate) dan Penyu Hijau (chelonia mydas),” ujarnya.

Albert juga mengatakan, upaya pengelolaan dan pengembangan sumber daya penyu melalui upaya konservasi, sudah dimulai oleh Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Sumbar sejak tahun 2004 lalu.

Katanya, saat itu DKP Sumbar telah mulai melaksanakan perlindungan dan pengelolaan populasi penyu dengan kegiatan penangkaran, mulai dari penetasan dan pembesaran anak penyu (tukik). Selanjutnya, tukik itu dilepas kembali ke laut.

“Kegiatan itu masih berlanjut di tahun 2005, kegiatannya dipusatkan di Kabupaten Pesisir Selatan. Saat itu telah dilepas tukik sebanyak 1.100 ekor ke laut. Sedangkan untuk tahun 2006, juga dilakukan kegiatan yang sama. Direncanakan, Pulau Kerabak Ketek akan dijadikan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD), melalui dukungan dana dari APBD,” papar Albert.

Dikatakan Albert, alasan dipilihnya Pulau Kerabak Ketek sebagai kawasan konservasi, lantaran tingginya tingkat eksploitasi telur penyu yang berasal dari daerah itu. Disamping itu, di sekitarnya terdapat 5 buah pulau-pulau kecil yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lokasi pelestarian penyu, karena wilayah itu merupakan lokasi pendaratan penyu laut.

Selain itu, katannya, selama ini Pulau Kerabak Ketek dianggap sebagai pusat pendaratan dari beberapa pulau yang ada di sekitarnya (Pulau Kerabak Gadang, Pulau Gosong). Rata-rata naik 3 – 4 ekor penyu setiap malam hari.

Untuk itu, kata Alber lebih lanjut, upaya konservasi dan penyelamatan penyu di Kabupaten Pesisir Selatan dilakukan sedini mungkin. Dengan melakukan kegiatan penangkaran penyu laut sebanyak mungkin dan melepasnya untuk masuk ke laut, diharapkan penyu itu akan terhindar dari kepunahan.

Juga dikatakan, untuk mempertahankan jumlah populasi, dalam tahun ini Dinas Kelautan Perikanan Sumbar merencanakan menyediakan tukik penyu sebanyak 1.000 ekor, yang siap dilepas ke alam bebas (re-stoking). Sementara itu, sebanyak 5 persen akan dipelihara sebagai sarana pendidikan dan pengetahuan bagi masyarakat setempat dan luar. Febriansyah Fahlevi

Lebaran Menjelang, Edan pun Datang

No Comments
Tradisi membagi-bagikan uang (salam tempel) pada Hari Raya Idul Fitri (lebaran), ternyata membuat sebahagian orang bertingkah edan. Untuk memenuhi tradisi itu, mereka rela membeli uang recehan atau lembaran seribu rupiah dengan harga selangit. Realita itu, ternyata masih terjadi menjelang Idul Fitri 1429 H ini.

Serentetan kesadaran hilahiyah mewarnai gebyar Ramadhan yang bermuara pada Idul Fitri 1429 H.. Kiprah keagamaan dan membludaknya hampir seluruh mesjid, juga mewarnai Ramadhan tahun ini. Suasana tersebut seolah memberikan pertanda, betapa umat Islam mengerti betul bahwa Ramadhan sebagai bulan istimewa, penuh rahmat dan ampunan.

Tak hanya di mesjid-mesjid dan mushala-mushala kealiman tercermin! Di jalan-jalan, perkantoran sampai ke pasar-pasar, kealiman itu juga terpancar. Dimana-mana kaum muslim kelihatan berwajah lebih pucat, berprilaku islami dan tak neko-neko, apalagi bertingkah aneh-aneh.

Sepertinya, mereka sangat menghormati bulan Ramadhan itu, meski belum tahu secara pasti bahwa seluruh mereka menjalankan ibadah puasa seperti yang diwajibkan dalam agama Islam. Yang jelas, berdasarkan pantauan penulis, selama Ramadhan tahun 2008 ini, segala tingkah laku buruk tak banyak diperlihatkan umat yang menjalankan ibadah puasa.

Kalaupun disebahagian tempat masih tersisa “kotoran” yang ditutup-tutupi, namun menurut pengamatan penulis di beberapa wilayah Kota Padang-Provinsi Sumatera Barat, jumlahnya tak seberapa.dan tak begitu mencolok.

Memang ada sebahagian rumah makan dan warung nasi yang nekad buka siang hari, namun warung itu terlihat ditutupi dengan rapi dan beroperasi secara sembunyi-sembunyi. Kendati demikian, tempat ini tak luput dari “aksi bersih-bersih” Polisi Pamong Praja.

Walau pada Ramadhan tahun ini nyaris terbilang “sukses”, namun beberapa hari menjelang Ramadhan itu berakhir (mendekati Idul Fitri/Lebaran), penulis malah menemukan prilaku “menyimpang” dari sebahagian umat Islam Kota Padang.

Demi memenuhi tradisi membagikan uang pada anak-anak (salam tempel) di saat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, sebahagian dari mereka rela bersusah-susah untuk memperoleh uang recehan dan uang lembaran ribuan dengan cara tak logis. Mereka justeru membeli uang itu dengan harga yang lumayan selangit.

Mungkin karena tradisi salam tempel itu sudah membuming, segelintir orang sengaja memanfaatkannya untuk meraup keuntungan! Lantaran meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap uang recehan (terutama uang lembaran seribu rupiah), segelintir orang malah “menebar jasa” di beberapa ruas jalan Kota Padang, terutama di sepanjang kawasan jembatan Siti Nurbaya di Jalan Batang Arau Padang.

Berdasarkan pantauan penulis, walau hari Raya Idul Fitri masih jauh, saat ini ‘para penjaja uang’ sudah mulai menjual uang lembaran ribuan itu kepada masyarakat yang mengingkannya dengan harganya bervariasi. Untuk penukaran uang sejumlah Rp.100.000 dengan uang lembaran Rp.1.000, mereka meletakan tarif mulai dari Rp.110.000 hingga Rp.115.000.

Namun ada juga yang tak mematok harga setinggi itu, Afniwarti (40 tahun) misalnya! Bagi wanita kelahiran Desember 1968 ini, untung sedikit pun sudah cukup. Sebab, ia hanya “menjual” uang itu pada beberapa kerabat dan tetangganya.

Lagi pula, wanita yang tengah hamil 6 bulan ini mengaku, dirinya juga merasa was-was dengan bisnis yang ia lakoni itu. Hatinya malah bertanya-tanya, jangan-jangan bisnis yang ia jalankan terbilang haram. Benar nggak ya?

Febriansyah Fahlevi

Malin Kundang Begitu Kondang

No Comments

Kisah legenda anak durhaka-Malin kundang, yang dikutuk ibunya menjadi butu, begitu populer dan tersohor sampai ke mancanegara. Sisa-sisa cerita legenda itu, kini masih membekas di Pantai Air Manis-Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.


Bila hanya mendengar cerita tentang keindahan alam dari mulut ke mulut, tentu tak bakalan seru! Sesekali, luangkanlah waktu Anda untuk melihat-lihat keindahan alam di beberapa objek wisata yang ada di Kota Padang.

Selama ini, Kota Padang dikenal banyak memiliki objek wisata yang begitu indah dan mempesona. Misalnya, objek wisata Air Terjun Sikayan Balumuik, di punggung Bukit Barisan-sekitar 17 kilo meter ke arah timur Kota Padang.

Tak hanya itu, di Kota Padang juga ada objek wisata Taman Hutan Raya Bung Hatta, yang terletak 18 kilo meter dari pusat kota. Juga ada Pantai Air Manis, Pantai Carolina, Taman Nirwana, Pantai Pasir Jambak, Pantai Padang dan beberapa objek wisata lainnya.

Dari beberapa objek wisata yang ada itu, disamping bisa menentramkan jiwa yang gundah—keindahan dan pesona yang terpancar dari objek wisatanya, juga diyakini mampu memberikan inspirasi bagi para wisatawan.

Dari beberapa objek wisata itu, yang paling tersohor adalah objek wisata Pantai Air Manis dengan spesifik Batu Malin Kundangnya, serta Pulau Pisang Ketek dan Pulau Pisang Gadang yang hanya berjarak beberapa meter dari bibir Pantai Air Manis.

Sebegitu mengagumkan pesona alam yang terpancar dari objek wisata yang merupakan perpaduan antara pantai dan cerita legenda Malin Kundang ini, rasanya tak ada pengunjung yang mampu menahan hasratnya untuk menikmati keutuhan pesona alamnya. Tak hanya itu, keinginan untuk membenamkan diri berlama-lama di air pantainya, pun segera akan membuncah dari para wisatawan.

Dipantai Air Manis ini, pengunjung juga bisa menyalurkan hasratnya berselancar di atas gulungan ombak (surfing). Selain itu, bagi pengunjung yang memiliki bakat bertualang, sebelumnya dapat menyusuri jalan setapak menuju Pantai Air Manis, yang dimulai dari Gunung Padang di kawasan Muaro.

Bagi yang ingin berwisata sambil mendapatkan cerita kisah legenda anak durhaka-Malin Kundang, dapat menuntaskan hasrat itu di Pantai Air Manis ini. Kisah Malin Kundang itu, dapat disimak dari ukiran relif sepanjang 5 meter yang terdapat di Pantai Air Manis tersebut.

Selain itu, kisah Malin Kundang, juga dapat Anda simak dari mulut penduduk setempat, yang berprofesi sebagai guide. Menurut cerita legenda itu, di Pantai Air Manis tersebut hiduplah seorang perempuan miskin di sebuah kampung nelayan.

Perempuan miskin setengah baya tersebut mempunyai seorang anak lelaki tunggal bernama Malin Kundang. Sedari kecil, Malin Kundang telah ditinggal mati oleh bapaknya. Malin Kundang si anak yatim itu, sehari-hari dirawat dan dibesarkan sang ibu, yang berprofesi mencari kayu api atau menangkap ikan di tepi pantai.

Dengan penuh kasih sayang Malin Kundang dibesarkan ibunya hingga beranjak dewasa! Pada suatu hari, Malin Kundang mengutarakan niat untuk merantau ke negeri seberang kepada ibunya. Kepergiannya itu, dengan maksud hendak merubah nasib hidup dan masa depanya.

Sang ibu tak kuasa menahannya dan melepas anak yang dicintai dengan cucuran air mata. Tinggallah ibunya seorang diri dan berdo’a semoga Malin Kundang berhasil di rantau orang.

Bulan berganti, tahun pun berlalu, terdengarlah berita dari nahkoda yang sering berlabuh di Pantai Air Manis, yang menyatakan Malin Kundang telah menjadi kaya dan mempunyai istri amat cantik di rantau sana.

Alangkah bahaginya ibu Malin Kundang mendengar kabar baik tersebut. Tiap malam sang ibu berdo’a semoga Malin Kundang segera kembali, karena sudah teramat merindukan anaknya tersebut.

Pada suatu hari merapatlah sebuah kapal besar membawa Malin Kundang di Pantai Air manis. Hati sang ibu sungguh bahagia, karena do’anya di kabulkan Tuhan untuk dapat kembali bertemu anaknya yang telah berpuluh tahun hidup di rantau orang.

Malin Kundang tampak gagah turun dari kapal bersama istri cantiknya. Namun sayang, rasa pongah mulai bertahtata dalam dirinya. Sebegitu angkuhnya ia, Malin Kundang malah tidak mengakui wanita yang datang dengan baju yang compang-camping itu sebagai ibunya.

Upatan dan cacian pun tak segan-segan dilontarkan Malin Kundang pada ibunya. Hati sang ibu tersayat bak sembilu, ia tak menyangka anak yang disayangi dan dirindukan sepanjang hari, melukai hatinya dan durhaka kepadanya.

Tanpa menghiraukan ibunya yang merintih pedih dan bersimpuh di bibir pantai, Malin Kundang lantas berlalu meninggalkan ibunya itu sembari melangkah menuju kapalnya.

Kapal Malin Kundang pun mulai bergerak meninggalkan sandaran. Sambil meneteskan air mata, sang ibu menatap kapal megah itu dan memanjatkan do’a ; Ya Tuhan, kalau memang Malin Kundang memang anak ku, tunjukanlah kebesaran-Mu kepada ku” ungkap sang ibu penuh isak.

Tak lama kemudian datanglah badai disertai petir dan gelombang laut yang dahsyat. Tak pelak kapal Malin Kundang dihantam gelombang laut yang datang tiba-tiba. Dalam situasi itu, ia masih sempat memanggil nama ibunya. Namun, kebesaran Tuhan telah datang, Malin Kundang si anak durhaka tenggelam bersama kapalnya dan terdampar di tepi Pantai Air manis. Konon karena kutukan ibunya, Malin Kundang bersama istrinya berubah menjadi batu.

Kisah haru dari legenda Malin Kundang itu pun tersohor ke mana-mana, Pantai Air Manis akhirnya menjadi objek wisata yang banyak diminati orang.

Untuk kepuasan pengunjung, kata Kabid Pengembangan Dinas Pariwisata Budaya Kota Padang-Sri Yanti Yazid SE MM. di objek wisata yang hanya berjarak 10 kilo meter dari Kota Padang ini, telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, diantaranya ; WC umum, mushala, kios-kios suvenir, medan nan bapaneh dan lainnya.

Bahkan, kata Sri Yanti, karena kawasan Pantai Air Manis ini merupakan objek wisata unggulan dalam menyambut Visit Indonesia Years 2008, dalam tahun ini Pemko Padang akan membangun perkampungan wisata di kawasan Pantai Air Manis tersebut, pada lahan seluas 5 hektar.