Mantan Atlit Nasional Jadi Tukang Ojek

1 comment

Di era tahun 80-an, Sabaruddin adalah pejuang olah raga, ia membela negara di pentas dunia. Mendali bergensi tak sedikit pula dipersembahkannya untuk Indonesia. Namun kini, nasib yang dijalaninya masih tak menentu dan mengambang bagai batu apung di lautan.


Sebenarnya olah raga takraw telah digeluti oleh pria kelahiran 15 Desember 1969 ini sejak tahun 1985 lalu. Saat itu, Sabaruddin tercatat sebagai anggota tim Melati Takraw Club (MTC), di kawasan Palingam-Kelurahan Pasar Gadang-Kecamatan Padang Selatan-Kota Padang-Provinsi Sumatera Barat.

Di MTC inilah pria berkulit hitam ini mengasah kemampuan teknik takrawnya. Di clubnya Sabaruddin tak obahnya bagai sepotong besi yang ditepa dan diuji di perapian. Kepiawaian ”pandai besi" ternyata berhasil membentuk pria sederhana ini menjadi "besi" berharga. Tak pelak, Sabaruddin pun menjelma menjadi ”bintang” atlit takraw cemerlang di Sumbar.

Bersama perjalanan waktu, dalam kurun waktu yang singkat, pria yang akrab disapa Saban ini, ternyata tak lagi menjadi pria biasa, ia pun tumbuh menjadi pria luar biasa. Dalam kapasitas sebagai tekong di cub takrawnya, Saban ternyata mampu membuktikan diri bahwa ia adalah seorang kapten yang layak bagi clubnya. Paling tidak, sederet prestasi takraw tingkat Sumbar telah diraihnya.

Hanya berselang sekitar 3 tahun, pada tahun 1988 ia dipanggil untuk mengikuti seleksi tingkat nasional di Jakarta. Lewat seleksi yang ketat, Saban ternyata berhasil menyingkirkan lawan-lawannya dari berbagai provinsi. Ia pun dinyatakan berhak tergabung dalam Tim Takraw Nasional.

Kejuaran bergengsi perdana tingkat dunia, di mulai Saban pada Turnamen King's Cup-di Negara Thailand. Di Tim Takraw Nasional ini, Saban tetap memegang posisi sebagai tekong. Ternyata, Sabarudin memang merupakan bintang cemerlang, dalam pertandingan perdananya tingkat dunia itu, Saban bersama timnya mampu mempersembahkan mendali perunggu untuk Indonesia.

Pada tahun 1989, Sabaruddin kembali mengikuti seleksi untuk mewakili Indonesia menuju Sea Games-di Kuala Lumpur Malaysia. Dari seleksi yang diikuti oleh atlit takraw seluruh Indonesia itu, Sabaruddin kembali membuktikan bahwa ia memang benar-benar bintang cemerlang. Ia kembali mewakili Indonesia di Sea Games itu, dan berhasil meloloskan Tim Indonesia dalam posisi 4 besar.

Pada tahun 1990, ia kembali berhasil tergabung dalam Tim Takraw Nasional untuk mengikuti Pesta Sukan-di Brunai Darussalam. Kali ini, Indonesia berhasil meraih mendali perunggu. Berikutnya, negara mengamanahkannya untuk mengikuti Sea Games Manila tahun 1991. Masih dalam kapasitas sebagai tekong dalam timnya, Saban bersama timnya pun berhasil mempersembahkan mendali perunggu untuk Indonesia.

Tak hanya sampai disitu, pada Sea Games Singapura tahun 1993, Sabaruddin bersama Tim Takraw Nasional, berhasil mengibarkan bendera merah putih di Singapura, dengan mempersembahkan mendali perunggu.

Kini, bersama bergesernya waktu, sinar kejayaan Saban pun telah mulai memburam. Lantaran usianya semakin tua, ia tak lagi aktif dalam olah raga takraw ini. Namun, setelah tak lagi aktif dalam olah raga ini, sepertinya dalam diri Saban tak lagi ada tanda-tanda bahwa dahulu ia adalah pria luar biasa, yang berjasa bagi nusa dan bangsa. Kini, perjalanan nasib yang dilaluinya tak menentu!

Harapan Sabaruddin untuk menghidupi isteri yang dinikahinya pada tahun 1996 silam dengan kebesaran namannya sebagai atlit nasional, ternyata tak banyak membantunya dalam mengarungi kehidupan. Pemerintah Provinsi Sumbar seolah tidak pernah memberikan kesempatan padanya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Padahal, ketika masa jayanya, Sabaruddin adalah satu-satunya atlit takraw Sumbar yang memiliki prestasi internasional. Namun, saat sinar kejayaanya telah memburam, ia pun seolah terperangkap pada "pondasi langit" yang miring. Kini, untuk bertahan hidup bersama anak dan isterinya, putra asli Palinggam ini terpaksa jadi tukang ojek dan buruh angkat.

Kata Saban, semenjak ia tak aktif lagi main takraw, ia memang pernah dijanjikan pekerjaan oleh Gubernur Sumbar yang saat itu dijabat Hasan Basri Durin. ”Namun, hingga akhir jabatannya, janji jadi pegawai negeri sipil yang pernah dilontarkan Hasan Basri Durin itu, tak pernah direalisasikan,” ungkap Sabaruddin.

Walau demikian, Sabaruddin tetap bersabar. Namun, agar tetap bisa hidup bersama keluarganya dalam kehidupan yang keras dan tak pernah kenal tawar menawar, Saban dipaksa keadaan untuk bisa bekerja keras. Akhirnya, pada tahun 1997. Sabaruddin mulai mengantungkan hidup dari keringat yang menetes di bawah terik matahari yang membakar tubuhnya, yaitu sebagai buruh angkat di sebuah gudang keramik di Palingam-Kelurahan Pasar Gadang-Kecamatan Padang Selatan.

Namun, lantaran di gudang keramik itu ia tidak bisa setiap hari mengais rezeki, karena aktifitas bongkar muat pun tidak berlangsung setiap hari, maka akhirnya Saban bekerja secara serabutan.

Waktu bergulir terus, perhatian pemerintah maupun pihak perusahaan swasta yang diharapkan, tak kunjung didapatkan Sabaruddin. Sementara ia harus tetap bisa menghidupi isterinya (Isdawarti) dan anak-anaknya (Kurnia Eka Saputra, Dedhek Rahmadoni, Liska Nosa Fitria). Akhirnya, Sabaruddin harus membanting tulang dan memutar otak agar perekonomian keluarganya tetap jalan.

Dalam mata pencarian yang tak menentu itu, kata Saban, ia diajak oleh orang kampungnya yang sudah meraih sukses di rantau orang. Pria dermawan yang bernama Dikki Syarfin itu, ungkap Saban, memboyongnya ke Jakarta untuk bekerja di salah satu perusahaannya.

Namun nasib malang kembali menyinggahi diri Saban. Baru sekitar satu minggu menikmati kehidupan yang layak di Jakarta, tiba-tiba Saban mendapat kabar duka dari isterinya. Anak kesayangannya Liska Nosa Fitria (8,5 bulan), dinyatakan meninggal dunia. Begitu luluh hati Sabaruddin saat itu! Dalam kondisi terguncang, pria bertubuh kekar ini pun berangkat menuju Kota Padang.

Setelah menerima cobaan itu, akhirnya Sabaruddin hidup menjadi pria yang lemah. Ia pun mulai kehilangan kendali diri. Setahun lebih ia terperangkap dalam kehidupan yang tak menentu. Ladang mimpinya seolah telah punah terbakar, dan ia terperangkap dalam hari-hari yang tiada lagi berseri.

Namun, rasa rasa tanggungjawab terhadap isteri dan anak-anaknya, mendorong Saban untuk tetap bersemangat menjalani hidup ini. Perlahan, Sabaruddin mulai bangkit kembali. Pasca musibah yang menimpa putri kesayangnya itu, Sabaruddin tak berhasrat lagi untuk kembali ke Jakarta. Ia pun kembali menjadi buruh angkat di gudang keramik di kawasan Palinggam.

Karena dari profesi itu Saban tidak setiap hari mendapatkan uang, maka ia mencoba untuk menjadi tukang ojek dengan motor milik temannya. Merasa dari profesi tukang ojek ini bisa mendapatkan uang tiap hari, maka bermodalkan uang pinjaman, Sabaruddin berupaya mengambil motor kredit.

Kini, atlit takraw nasional yang pernah jaya di tahun 80-an ini, mengantungkan hidupnya di bawah terik matahari yang membakar sekujur tubuhnya, sebagai tukang ojek di Pasarraya Padang (depan Mesjid Taqwa Muhammadiyah).

Sabaruddin adalah salah satu contoh atlit yang bernasib buruk di hari tuanya. Pendakian hidup yang dilaluinya terlalu tajam dan tinggi. Ia tak obahnya bagai seorang musafir yang berharap setetes air. Namun, yang ia temukan hanyalah seember air limbah tak berguna. F. Fahlevi

1 Komentar:

itu kan masalah nasib.. jadikan lah takraw sekedar hobi dan jangan bergantung pada kehebatan bermain takraw....
kami dengan merasa bangga jika anda mau bermain dan melatih kami di
jl dakota tunggul hitam padang..
sebuah club kecil yang minim prestasi..
selamat bergabung