
Kegiatan penangkapan penyu maupun pengambilan telornya, sulit untuk dikontrol. Sebab, pada umumnya daerah penangkapannya berada di kawasan perairan terpencil (pulau). Kurangnya sarana dan lemahnya pengawasan, membuat populasi penyu menuju kepunahan.
Berkeliling di laut Sumbar, selain mengasyikan juga bisa menambah khasanah ilmu pengetahuan. Febi Fernando (20 tahun) seorang mahasiswa Jurusan Teknik Mesin di Akademi Teknologi Padang, merasakan hal itu.
Selama berkeliling itu, ia menemukan beberapa lokasi pendaratan penyu. Lokasi itu terdapat di Kabupaten Pasaman, Pesisir Selatan, Padang Pariaman dan Kota Padang-Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Bahkan, ia juga menemukan kegiatan penangkapan penyu dan pengambilan telur penyu yang dilakukan oleh masyarakat.
Awalnya Febi tidak begitu mengetahui secara persis kenapa penyu itu ditangkap. Yang diketahui oleh mahasiswa yang tinggal di Simpang Tinju Lapai Padang ini hanyalah sebatas telur penyu, dimana telur itu bisa jadi santapan manusia dan mengandung nilai gizi yang tinggi.
Namun, karena pernah menyaksikan ada kegiatan penangkapan penyu yang dilakukan masyarakat, muncul berbagai pertanyaan dibenaknya. Akhirnya, ia mencari tahu tentang penyu tersebut.
Begitu terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa tingginya harga jual penyu, mendorong berbagai pihak untuk menangkap dan memperdagangkan penyu. Bahkan ia juga mendapat informasi, banyak tujuan yang ada dari kegiatan penangkapan penyu tersebut. Diantaranya, dagingnya dimanfaatkan untuk santapan lezat, kerapasnya diambil untuk dijadikan suvenir serta berbagai keperluan lainnya.
Selain informasi tentang kegiatan penangkapan penyu itu, Febi Fernando juga mendapat informasi tentang banyaknya kegiatan pengumpulan penyu yang dilakukan secara tidak syah dan tidak berpedoman pada kaidah pelestarian, yang dapat mengakibatkan terancamnya populasi penyu di alam.
Mahasiswa asal Provinsi Riau ini juga mendapatkan informasi, populasi penyu sering terusik oleh aktivitas perikanan. Dikabarkan, banyak penyu yang mati dan terluka dalam jaring nelayan.
Realita yang dijumpai Febi Fernando itu, diakui oleh Kasubdin Pengendalian Sumber Daya Dinas Kelautan Perikanan Sumbar-Ir Albert Krisdiarto didampingi Kasi Konservasi Resisuriati Spi Msi. Kata mereka, memang sumberdaya genetik yang akhir-akhir ini cenderung dieksploitasi secara berlebihan, adalah penyu laut.
Dampak dari kegiatan eksploitasi itu, kata Albert, membuat populasi penyu yang ada di alam semakin berkurang.
“Penurunan populasi penyu itu disebabkan oleh beberapa hal, antara lain; pengambilan penyu dewasa untuk diperdagangkan. Selain itu, pengambilan telur penyu untuk makan makin meningkat, sehingga untuk ditetaskan nyaris tak tersisa. Disamping itu, aturan pemerintah terhadap paraktek pengelolaan penyu belum jelas, serta pengontrolan sulit dilakukan lantaran daerah penangkapannya terletak di kawasan perairan terpencil dan sulit dijangkau,” papar Albert.
Dikatakan, bila kegiatan penangkapan penyu yang tanpa mengindahkan kelestarian terus saja berlangsung, maka dikhawatirkan akan menimbulkan kelangkaan jenis, pada akhirnya akan menuju kepunahan.
Ketika disinggung apa upaya Dinas Kelautan Peikanan Sumbar dalam mengatasi persoalan tersebut, Albert didamping Resi memberikan penjelasannya. Katannya, untuk mengatasi persoalan itu, diperlukan upaya pengelolaan dan pengembangan sumber daya penyu melalui upaya konservasi di alam. Dengan demikian, akan tercapai keseimbangan antara tingkat pemanfaatan dengan pertambahan tumbuhnya populasi, dengan melakukan upaya pelestarian penyu agar pemanfaatan sumberdaya penyu dapat berlangsung secara terus menerus.
Lebih jauh diungkapkan Albert, di Sumbar terdapat sebanyak 32 lokasi pendaratan penyu yang tersebar di Kabupaten Pasaman, Pesisir Selatan, Padang Pariaman dan Kota Padang.
Dari sekian banyak lokasi pendaratan penyu itu, Kata Albert, yang terbesar terdapat di Pesisir Selatan, yaitu Pulau Penyu, Pulau Beringin, Pulau Karabak Besar, Pulau Karabak Kecil, Pulau Katang-Katang serta Pulau Gosong.
“Di pulau tersebut terdapat 3 jenis penyu yang selalu singgah dan naik di sepanjang pantai Sumbar. Ketiga jenis penyu itu adalah Penyu Belimbing (dermochelys coriacea), Penyu Sisik (eretmochelys imbricate) dan Penyu Hijau (chelonia mydas),” ujarnya.
Albert juga mengatakan, upaya pengelolaan dan pengembangan sumber daya penyu melalui upaya konservasi, sudah dimulai oleh Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Sumbar sejak tahun 2004 lalu.
Katanya, saat itu DKP Sumbar telah mulai melaksanakan perlindungan dan pengelolaan populasi penyu dengan kegiatan penangkaran, mulai dari penetasan dan pembesaran anak penyu (tukik). Selanjutnya, tukik itu dilepas kembali ke laut.
“Kegiatan itu masih berlanjut di tahun 2005, kegiatannya dipusatkan di Kabupaten Pesisir Selatan. Saat itu telah dilepas tukik sebanyak 1.100 ekor ke laut. Sedangkan untuk tahun 2006, juga dilakukan kegiatan yang sama. Direncanakan, Pulau Kerabak Ketek akan dijadikan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD), melalui dukungan dana dari APBD,” papar Albert.
Dikatakan Albert, alasan dipilihnya Pulau Kerabak Ketek sebagai kawasan konservasi, lantaran tingginya tingkat eksploitasi telur penyu yang berasal dari daerah itu. Disamping itu, di sekitarnya terdapat 5 buah pulau-pulau kecil yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lokasi pelestarian penyu, karena wilayah itu merupakan lokasi pendaratan penyu laut.
Selain itu, katannya, selama ini Pulau Kerabak Ketek dianggap sebagai pusat pendaratan dari beberapa pulau yang ada di sekitarnya (Pulau Kerabak Gadang, Pulau Gosong). Rata-rata naik 3 – 4 ekor penyu setiap malam hari.
Untuk itu, kata Alber lebih lanjut, upaya konservasi dan penyelamatan penyu di Kabupaten Pesisir Selatan dilakukan sedini mungkin. Dengan melakukan kegiatan penangkaran penyu laut sebanyak mungkin dan melepasnya untuk masuk ke laut, diharapkan penyu itu akan terhindar dari kepunahan.
Juga dikatakan, untuk mempertahankan jumlah populasi, dalam tahun ini Dinas Kelautan Perikanan Sumbar merencanakan menyediakan tukik penyu sebanyak 1.000 ekor, yang siap dilepas ke alam bebas (re-stoking). Sementara itu, sebanyak 5 persen akan dipelihara sebagai sarana pendidikan dan pengetahuan bagi masyarakat setempat dan luar. Febriansyah Fahlevi