Dalam Kemiskinan Penyakit pun Menyerang

No Comments

Muhammad Alim sekitar tahun 2008 lalu pernah menjalani operasi di RS M Djamil Padang. Namun, untuk tindakan medis berikutnya, ia terbentur biaya. Akibatnya, kini ia terperangkap dalam penderitaan.

Bagai elang yang tersesat di rimba raya, yang hanya bisa berkulik tatkala senja raya, begitulah nasib pria malang, Muhammad Alim (26 tahun) alias Ahmad. Warga di tepi jalan raya Cubagan-Jorong Koto Panjang-Nagari Muaro Paneh-Kecamatan Bukit Sundi–Kabupaten Solok-Provinsi Sumatera Barat ini, tergolek tak berdaya. Ladang mimpinya bagai punah terbakar, dan meneggelamkannya dalam hari-hari yang tak lagi berseri.

Duka yang datang itu, sama sekali tak pernah dibayangkan akan dirangkai oleh pria yang berprofesi sebagai tukang ojek itu. Namun, kuasa Allah Aza Wajala, ternyata di atas segala-galanya.

Menurut pengakuan ibunda pria yang kabarnya sudah memiliki 1 orang anak---namun sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu, duka yang datang itu tanpa diduga sebelumnya. Awalnya, kata orang tua Muhammad Alim yang bernama Nurmis (55), anak ketiganya dari delapan bersaudara itu, menjalani operasi usus buntu beberapa bulan lalu di RS M. Djamil Padang.

Pasca operasi itu, lanjut Nurmis, Muhammad Alim harus melalui tindakan medis lainnya, yaitu berupa cemo therapy. Namun lantaran perjalanan nasib perekonomian keluarga ini begitu ’sunsang’, tindakan cemo therapy itu tak dapat mereka lakukan. Sebab, biayanya teramat mahal. Untuk satu kali cemo saja, mereka harus mengeluarkan uang sebesar Rp1,5 juta.

Hari berbilang, bulan pun berganti ! Ternyata dalam perjalanannya, sang waktu mentakdirkan ’duka lara’ pada Muhammad Alim. Tubuhnya yang dulu kekar dan rona wajahnya yang dulu segar, kini malah tergolek lemah. Sebab, menjelang bulan puasa (Ramadhan) 2008, perutnya kian membesar.

Bahkan, berat badannya terus menurun dari waktu ke waktu. Kini, yang ada hanya kulit pembalut tulang. Sementara, seberkas ’cahaya’ tak lagi tersirat di wajahnya. Sebab, wajah yang dulu segar, kini berganti pucat pasi.

Derita Muhammad Alim belum ungkai sampai disitu. Kenyataan pahit pun harus rela ia terima. Sebab, di tengah kondisi menyedihkan itu, irama nafasnya pun tak lagi beraturan. Karena, ia sering mengalami sesak nafas.

Penderitaan Muhammad Alim kian lengkap tatkala ia merasakan bagai tongkang di lautan yang dimainkan oleh gelombang. Sementara, perahu dan kapal yang berpapasan dengan sang tongkang, seolah tak peduli. Begitu pulalah nasibnya hari ini. Sebab, sebenarnya derita yang ia alami itu telah terwartakan di seluruh pelosok kampung. Namun---bila boleh menyesalkan---duka yang dialami Muhammad Alim itu hanya sampai sebatas menyentuh telingga orang kampungnya saja, namun belum menyentuh ke dalaman nurani mereka. Akibatnya, beban itu seolah dipikull sendiri.

Memang Muhammad Alim tak akan menumpahkan tangisnya terhadap derita yang dialaminya itu, sebab ia terlalu ’jantan’ untuk melakukan tindakan tersebut. Kendati demikian, jauh di lubuk hatinya, ada kesedihan yang terpatri di hatinya yang paling tawar. Kesedihan itu hanya ia pendam. Bahkan, mungkin saja suatu waktu akan ia muntahkan, lantaran tak kuasa menanggung derita yang datang.

Dalam kehidupan yang tak kenal tawar menawar ini---pun dalam kondisi kesehatan yang sangat memprihatinkan itu, Muhhamad Alim juga dipaksa keadaan untuk bisa ’berbetah-betah’ bertahan di kamar yang tak layak huni. Sebab, kamar yang ia huni saat ini cukup sempit, hanya berukuran sekitar 1,5 x 3 meter. Sementara, ia harus bertahan hidup dengan usus yang membulat merah, persis bak tomat masak. Ususnya itu pun dibungkus dengan benda berupa plastik. Keadaan itu membuat Muhammad Alim tak obahnya bagai sepotong besi, yang selalu diuji dan dibakar di perapian

Sebenarnya terhadap derita yang dialami Muhammad Alim itu, ibunda tercitanya ingin berteriak. Namun sayang, teriakkan itu dirasa hanya bagaikkan sebuah teriakkan di hutan luas, lantang namun tak ada yang mendengar !

Kendati begitu, ibunda Muhammad Alim yang bernama Nurmis, masih tetap menitipkan harapan di nadi dan setiap detak jantungnya. Sebab, ia masih punya harapan, ia masih punya Tuhan yang selalu mendengarkan keluh kesah umat-Nya.

Untuk kesembuhan anaknya itu, barisan do’a-do’a tak lupa dipanjatkan oleh Nurmis keharibaan Allah Al-Mujibusshamad. Dalam kondisi tak berdaya itu, Nurmis berharap datangnya sebuah keajaiban. Sebuah keajaiban yang berasal dari ridho Allah Subhanawata’ala !.

Nurmis tak hanya sekedar berharap keajaiban belaka, berbagai upaya pun terus ia lakukan, termasuk bekerja keras memeras keringat, demi menggumpulkan rupiah, agar bisa merawat anaknya. Sebab, saat ini Muhammad Alim hanya diasupi makanan berupa susu fomula. Bahkan, lantaran ketiadaan biaya, saat ini anaknya itu tak lagi dapat asupan obat-obatan.

Di rumah kayu berukuran rendah sekaligus merangkap warung rokok dan jajanan yang terletak persis di tepi jalan raya Cubagan-Jorong Koto Panjang-Nagari Muaro Paneh-Kecamatan Bukit Sundi–Kabupaten Solok itu, Nurmis berupaya mengumpulkan rupiah demi rupiah dari para konsumen yang berbelanja ke warungnya. Namun, upaya keras Nurmis itu ternyata belum berbuah. Sebab, uang yang berhasil ia kumpulkan, baru sebatas untuk makan mereka sekeluarga.

Bila realita ini terus bergulir, Nurmis dipastikan tak bakal bisa mewujudkan keinginannya untuk menyembuhkan Muhammad Alim. Hanya keajaiban Allah dan uluran tangan para dermawan-lah yang mampu melepaskan Nurmis dan Muhammad Alim dari penderitaannya.