Lebaran Menjelang, Edan pun Datang

No Comments
Tradisi membagi-bagikan uang (salam tempel) pada Hari Raya Idul Fitri (lebaran), ternyata membuat sebahagian orang bertingkah edan. Untuk memenuhi tradisi itu, mereka rela membeli uang recehan atau lembaran seribu rupiah dengan harga selangit. Realita itu, ternyata masih terjadi menjelang Idul Fitri 1429 H ini.

Serentetan kesadaran hilahiyah mewarnai gebyar Ramadhan yang bermuara pada Idul Fitri 1429 H.. Kiprah keagamaan dan membludaknya hampir seluruh mesjid, juga mewarnai Ramadhan tahun ini. Suasana tersebut seolah memberikan pertanda, betapa umat Islam mengerti betul bahwa Ramadhan sebagai bulan istimewa, penuh rahmat dan ampunan.

Tak hanya di mesjid-mesjid dan mushala-mushala kealiman tercermin! Di jalan-jalan, perkantoran sampai ke pasar-pasar, kealiman itu juga terpancar. Dimana-mana kaum muslim kelihatan berwajah lebih pucat, berprilaku islami dan tak neko-neko, apalagi bertingkah aneh-aneh.

Sepertinya, mereka sangat menghormati bulan Ramadhan itu, meski belum tahu secara pasti bahwa seluruh mereka menjalankan ibadah puasa seperti yang diwajibkan dalam agama Islam. Yang jelas, berdasarkan pantauan penulis, selama Ramadhan tahun 2008 ini, segala tingkah laku buruk tak banyak diperlihatkan umat yang menjalankan ibadah puasa.

Kalaupun disebahagian tempat masih tersisa “kotoran” yang ditutup-tutupi, namun menurut pengamatan penulis di beberapa wilayah Kota Padang-Provinsi Sumatera Barat, jumlahnya tak seberapa.dan tak begitu mencolok.

Memang ada sebahagian rumah makan dan warung nasi yang nekad buka siang hari, namun warung itu terlihat ditutupi dengan rapi dan beroperasi secara sembunyi-sembunyi. Kendati demikian, tempat ini tak luput dari “aksi bersih-bersih” Polisi Pamong Praja.

Walau pada Ramadhan tahun ini nyaris terbilang “sukses”, namun beberapa hari menjelang Ramadhan itu berakhir (mendekati Idul Fitri/Lebaran), penulis malah menemukan prilaku “menyimpang” dari sebahagian umat Islam Kota Padang.

Demi memenuhi tradisi membagikan uang pada anak-anak (salam tempel) di saat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, sebahagian dari mereka rela bersusah-susah untuk memperoleh uang recehan dan uang lembaran ribuan dengan cara tak logis. Mereka justeru membeli uang itu dengan harga yang lumayan selangit.

Mungkin karena tradisi salam tempel itu sudah membuming, segelintir orang sengaja memanfaatkannya untuk meraup keuntungan! Lantaran meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap uang recehan (terutama uang lembaran seribu rupiah), segelintir orang malah “menebar jasa” di beberapa ruas jalan Kota Padang, terutama di sepanjang kawasan jembatan Siti Nurbaya di Jalan Batang Arau Padang.

Berdasarkan pantauan penulis, walau hari Raya Idul Fitri masih jauh, saat ini ‘para penjaja uang’ sudah mulai menjual uang lembaran ribuan itu kepada masyarakat yang mengingkannya dengan harganya bervariasi. Untuk penukaran uang sejumlah Rp.100.000 dengan uang lembaran Rp.1.000, mereka meletakan tarif mulai dari Rp.110.000 hingga Rp.115.000.

Namun ada juga yang tak mematok harga setinggi itu, Afniwarti (40 tahun) misalnya! Bagi wanita kelahiran Desember 1968 ini, untung sedikit pun sudah cukup. Sebab, ia hanya “menjual” uang itu pada beberapa kerabat dan tetangganya.

Lagi pula, wanita yang tengah hamil 6 bulan ini mengaku, dirinya juga merasa was-was dengan bisnis yang ia lakoni itu. Hatinya malah bertanya-tanya, jangan-jangan bisnis yang ia jalankan terbilang haram. Benar nggak ya?

Febriansyah Fahlevi