Menggantungkan Asa di Lantai Kelas

No Comments


Mereka duduk di lantai dan belajar dalam sarana serba terbatas. Kecerian masih saja terpancar dari diri para bocah di kelas itu. Sementara, raut ketulusan tak pernah sirna dari rona wajah para pendidiknya. Inilah realita yang ada di PAUD Kasih Ibu, Watas-Kelurahan Pisang-Kecamatan Pauh-Kota Padang-Provinsi Sumatera Barat.


Ruangan berukuran sekitar 4 x 4 meter itu sangat terlihat sederhana. Di ruangan ini tidak di terlihat meja dan kursi. Tak pula disua gambar-gambar penunjang, hiasan ruangan dan dinding yang penuh cat warna-warni.

Ruangan yang sederhana ini, sebenarnya adalah gedung Balai Pemuda Wates-Kelurahan Pisang-Kecamatan Pauh, yang 3 tahun belakangan dimanfaatkan oleh ibu-ibu PKK untuk mengelola tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kasih Ibu. Ruangan ini juga dimanfaatkan ibu-ibu PKK Kelurahan Pisang untuk melaksanakan program Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk kesehatan ibu dan anak.

Di tengah kesederhanaan tampilan ruang kelas PAUD Kasih ibu ini, juga tak dijumpai alat peraga/permainan edukatif, mainan anak, mainan kayu dan sarana penunjang belajar lainnya. Teramat sederhana memang. Namun, bila ada yang menyebutnya memprihatinkan, memang begitulah realitanya! Padahal, dari ruangan sederhana inilah para pendidiknya memberikan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Dalam ruangan yang serba minim sarana ini pulalah para pendidik yang tulus itu melakukan bentuk penyelenggaraan pendidikan, yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik anak.

Di PAUD Kasih Ibu itu, tenaga guru yang hanya berjumlah dua orang, tak pernah bosan mengasah kecerdasan dan daya pikir, daya cipta, emosi, spiritual, berbahasa/komunikasi, serta interaksi sosial anak-anak usia dini di Kelurahan Pisang-Kecamatan Pauh.

Kendati harus melakukan tugas dalam sarana terbatas untuk mencari model dalam mengembangkan daya imajinasi anak usia dini, namun dua orang pendidik PAUD Kasih Ibu, yaitu ; Andriani (35 tahun) dan Murniati (41 tahun) tak pernah mengeluh.

Baik Andriani maupun Murniati menyadari betul bahwa PAUD ini merupakan program pemerintah yang harus dijalankan. Dimana, dalam pemenuhan hak pendidikan sejak dini (usia 3 - 5 tahun), pemerintah mendorong setiap kelurahan yang ada di Indonesia untuk memiliki minimal satu PAUD. Karena, PAUD merupakan alternatif pemenuhan hak pendidikan selain Taman Kanak-Kanak (TK) atau Taman Pendidikan Alqur’an (TPA).

Kata Andriani yang dipercaya mengelola PAUD Kasih Ibu itu, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2005, PAUD termasuk dalam jenis Pendidikan Non Formal. Pendidikan Non Formal selain PAUD yaitu Tempat Penitipan Anak (TPA), Play Group dan PAUD Sejenis. PAUD sejenis artinya PAUD yang diselenggarakan bersama dengan program Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu untuk kesehatan ibu dan anak). Sedangkan pada Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), PAUD dimasukkan ke dalam program Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

Dikatakan, pada penyelenggaraan PAUD, jenis pendidikan ini tidak menggunakan kurikulum baku dari Depdiknas, melainkan menggunakan rencana pengajaran yang disebut Menu Besar. Menu Besar ini, kata Andriani, mencakup pendidikan moral dan nilai keagamaan, fisik/motorik, bahasa, sosial-emosional dan seni. Panduan dalam Menu Besar ini akan dikembangkan oleh tiap PAUD, berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing PAUD.

”Selain tidak menggunakan kurikulum baku, PAUD juga ditujukan untuk kalangan ekonomi miskin. Oleh karena itu, PAUD tidak menarik iuran sekolah atau menarik iuran besar. Sebab, PAUD merupakan tempat untuk memenuhi hak pendidikan anak, mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-cuma,” papar Andriani.

Entah lantaran harus memberikan pendidikan murah atau gratis, ternyata hal itu membuat PAUD Kasih Ibu di Kelurahan Pisang ini harus berjalan apa adanya. Bahkan, untuk biaya operasional PAUD itu, biasanya mereka mengandalkan sumbangan berbagai pihak.

Lantaran terlalu banyak bergantung dari sumbangan pihak ke tiga, maka tak jarang pula sumbangan yang didapat itu hanya dapat memenuhi bahan belajar murid belaka. Namun hal lain, seperti honor para pendidik, ternyata belum dapat terpenuhi secara manusiawi. Padahal, para pengajar PAUD ini, juga memerlukan kebutuhan keluarga yang mesti dipenuhi.

Disisi lain, tak jarang pula para orangtua murid juga meminta adanya rekreasi bersama, atau pemakaian baju seragam. Sementara, untuk kebutuhan sejenis ini, PAUD tidak memiliki dana. Untuk mengatasi persoalan yang demikian, kata Andriani, PAUD Kasih Ibu akhirnya menarik iuran sekolah. Iuran ini pun tidak bisa besar jumlahnya, karena para murid PAUD berasal dari keluarga berekonomi lemah. Rata-rata para orang tua murid hanya mengeluarkan uang Rp20.000 per bulan. Duh…., begitu memprihatinkan. F. Fahlevi