Dimana Nurani Febrianyah Fahlevi

No Comments
Dimana Nurani
Febrianyah Fahlevi

Ketika usia saya masih 7 tahun, saya begitu bangga mendengar cerita ibunda saya, yang menyebutkan bahwa negeri yang kami diami ini merupakan sebuah “negeri surgawi”, gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja

Ternyata, gemah ripah loh jinawi itu mengandung makna, rakyat yang hidup makmur dan bahagia melimpah semua kebutuhan hidup. Sedangkan tata tentram kerta raharja berarti tentram dan sejahtra.

Namun, setelah saya beranjak remaja, otak dan nurani saya seolah dipaksa menelaah lebih jauh tentang negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja yang digadang-gadangkan tersebut. Sebab, kala itu, yang saya sua baru sebatas makna dalam kamus belaka.

Jiwa remaja saya kala itu justeru tak mau sekedar mengkonsultasikan makna gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja tersebut hanya pada kamus belaka. Jiwa remaja saya malah bertanya fakta. Benarkah realitanya di negeri ini rakyat hidup makmur dan bahagia melimpah semua kebutuhan hidup (gemah ripah loh jinawi), dan benarkah di negeri ini rakyat hidup tentram dan sejahtra (tata tentram kerta raharja).

Bagi jiwa remaja saya, makna gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja tersebut tak obahnya bagai fosil di balik bebatuan, yang harus diselidiki silsilahnya dengan melakukan sebuah penelitian komprehensif. Sebab, “mata telanjang” saya justeru menemukan fakta masyarakat yang tak mampu menyekolahkan anaknya karena ketiadaan biaya. Dibalik itu, “mata telanjang” saya pun menemui masyarakat yang mengalimi gizi buruk. Lagi-lagi, ini lantaran ketiadaan biaya.

Memang kala saya remaja, tak banyak rakyat yang “menjeritkan” penderitaannya itu. Sebab, saat itu mereka hanya punya pandangan sederhana : “bila tak bisa makan dengan nasi dan lauk, maka talas, jagung, ubi, sagu dan makanan lainnya masih bisa dimakan untuk sekedar penganjal perut”.

Sementara itu, bila tak punya uang untuk menyekolahkan anak-anak mereka, masyarakat ini juga masih punya solusi sederhana ; “anak-anak mereka cukup diajari mengaji, berhitung secara sederhana dan belajar budi pekerti pada guru-guru yang mau mengajarkan secara sukarela tanpa berharap materi”.

Namun, setelah 65 tahun Indonesia meredeka, fakta tentang negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja tersebut, belum juga saya sua.. Bahkan, tragedi yang memilukan hati, makin banyak terjadi di negeri ini. Rakyat menjadi begitu lebih mudah marah lantaran terbelenggu dalam kemiskinan.

Makin hari, di negeri ini, saya juga semakin banyak menemui orang-orang “bertelanjang dada” sambil tersenyum sendiri menyusuri sepanjang jalan. Tak hanya itu, masyarakat yang menampungkan tangan di perempatan jalan dan tempat-tempat keramaian lainnya, pun makin banyak dijumpai dari hari ke hari.

Bila jiwa remaja saya pernah mempertanyakan ; “benarkah realitanya di negeri ini rakyat hidup makmur dan bahagia melimpah semua kebutuhan hidup (gemah ripah loh jinawi), dan benarkah di negeri ini rakyat hidup tentram dan sejahtra (tata tentram kerta raharja)—maka kini jiwa saya yang mulai beranjak tua—malah mempertanyakan dimana “letaknya” hati nurani para pemimpin negeri.

Sebab, fakta yang saya sua, di saat simiskin menguras keringat untuk menghidupi dirinya, sebagain besar pejabat malah hidup dalam kemewahan. Malah fakta terburuk juga saya sua beberapa waktu lalu, dalam situasi rakyat menjerit pilu, pemerintah malah “membuang uang” Rp22,5 milyar untuk membangun pagar Istana Presiden Republik Indonesia.

Setahun yang lalu, di tengah perjuangan rakyat kecil agar bisa makan untuk satu hari, sebuah hal mengejutkan juga muncul. Pemerintah malah menganggarkan dana Rp2 miliar, hanya untuk sekedar merenovasi air mancur bundaran HI, yang menjadi kebanggan warga Kota Jakarta.

Bahkan, beberapa hari menjelang ulang tahun ke-64 tanggal 1 Juli, korps kepolisian malah dikabarkan hidup “berkemewahan”. Menurut laporan ICW, sekitar 21 perwira dan jenderal lembaga bersemboyan Rastra Sewakotama ini, dikabarkan memiliki uang cukup fantastis, yang disimpan di rekening mereka.

Sepertinya ada yang luar biasa sedang terjadi di negeri ini, para pemimpinnya teramat pintar mengkomat-kamitkan kepeduliannya terhadap penderitaan rakyat, lewat berbagai program yang disebutkan berpihak pada rakyat. Namun disisi lain, petinggi negeri malah mengambil kebijakkan, yang jauh kesannya dari kepedulian yang didengungkan itu.

Malah, di tengah buruknya pelayanan publik oleh pemerintah terhadap rakyat miskin, berbagai kebijakkan pemerintah pun terkadang sering membuat masyarakat miskin makin menjerit. Setelah mewacanakan pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM) atau pembatasan penggunaannya, kini pemerintah pun menaikkan tarif dasar listrik, yang mulai diberlakukan pada 1 Juli 2010. Inikah yang disebut kepedulian itu. Kalau sudah begini, di mana hati nurani?