
Belakangan, makin sulit membedakan pengemis antara tuntutan hidup dan profesi. Yang masti, kian hari jumlah mereka makin banyak dan meresahkan. Apa yang mesti dilakukan?
Pakaian lusuh, kumuh dan rona muka awut-awutan. Nada suaranya pun rendah dan nyaris tak terdengar. Yang ada hanya kata-kata ; “kasihanilah lah pak….., kasihanilah bu……”. Orang-orang seperti ini hampir setiap hari ditemui di perempatan jalan, traffic light (lampu pengatur lalulintas, yang biasa disebut lampu merah), bis, dan berbagai tempat keramaian di kota-kota besar. Mereka biasa disebut dengan pengemis, karena mencari nafkah dengan cara meminta-minta.
Perilaku para pengemis ini pun beragam. Ada yg membawa dan menggendong anak kecil, ada yang masih segar bugar serta ada sengaja memperlihatkan anggota tubuh penuh dengan kudisan, bopeng dan penuh luka. Bahkan, ada pula yang ke-PD-an (percaya diri-red) tak karuan, dengan mengatakan ; “lebih baik mengemis (minta uang) dari pada maling, menjambret dan menodong”, serta banyak lagi perilaku-perilaku lain yang ditunjukkan para pengemis ini.
Namun, belakangan keberadaan para pengemis yang lebih nyaman beroperasi di jalanan (lampu merah) ini makin meresahkan. Sebab, bila permintaannya tidak digubris, tak jarang mereka melontarkan umpatan dengan mata dipelototkan ke pengendara mobi. Bahkan tak pelak pula mereka akan mengambil sikap ‘gila-gilaan’, kaca dan dinding mobil pun diketok dengan uang recehan.
Selain meresahkan, di beberapa kota besar keberadaan mereka diduga terorganisir. Di Kota Padang-Provinsi Sumatra Barat misalnya. Anggota DPRD Kota Padang-Z. Panji Alam SH, menduga kuat bahwa para pengemisnya terorganisir.
Menurut Panji Alam, para pengemis itu diduga kuat dikoordinir seorang tenaga pengarah yang kemudian mengambil jatah persenan dari para pengemis.
“Apa yang saya katakan ini didasari atas pengalaman yang saya temui. Saya pernah melihat dan mendengar langsung seorang pengarah yang mengkoordinir para pengemis di Pasar Grosir ikan kering, tepatnya di belakang Plaza Andalas beberapa waktu lalu,” ungkap Panji Alam meyakinkan.
Dugaan para pengemis di Kota Padang itu terorganisir, kata Panji lagi, itu dapat dilihat dari mobilitas pengemis yang kebanyakan cacat. Bahkan, ada wanita-wanita yang menggendong anak-anak hilir mudik, dengan meminta meminta sedekah. Anehnya, anak yang digendong itu pun berganti-ganti.
Kata Panji Alam, para pengemis itu sering terlihat di beberapa lokasi. Pada pagi hari, dia bisa berada di Simpang Kadang. Siangnya di Simpang Kinol dan sorenya di Jalan Proklamasi dan beberapa tempat lainnya. Ini menandakan ada orang yang mengantar jemputnya dari satu lokasi ke lokasi lain. Orang-orang inilah yang dimaksud sebagai koordinatornya. Mereka pun hampir bisa dipastikan akan mengeruk keuntugan dari para pengemis ini,” ungkap Panji Alam.