(OPERA LAPAU) Barack Obama ka Diberi Gelar Adat

No Comments

Kalau Ujang Temok tak duduk di lapau Tan Angguak, ada-ada saja nan kejadi bahan cerita dek urang nan duduk di lapau tu. Sampai-sampai, Etek Lebe bini tercinta Tan Angguak, sata pula ikut berbicara. Padahal bila ada Ujang Temok, Etek Lebe lebih banyak mengemat-ngemat saja.

Memang, semenjak Ujang Temok tiba-tiba menjadi Pemred Koran Hantu Belawu, agak merumas juga perut orang bercerita lepas-lepas di lapau itu. Tak tagak mentagi mereka melihat kaning Ujang Temok nan sedikit tokong itu. Agak berdabok-dabok juga dada mereka bila mau mengeluarkan pendapat di depan Ujang Temok. Sebab, orang nan duduk di lapau ini mengira Ujang Temok memang santing benar dari mereka.

Tapi ya sudahlah, kok ka disebut kesadanya, terbuka pula coki Ujang Temok ini nanti. Pediar sajalah alam nan menghukumnya. Nan pasti, saat ini orang sedang sagan-saganya ke Ujang Temok, maklum Pemred Koran Hantu Belawu gitu loh…!

Nan pasti, dua hari nan lalu, para pelapau di lapau Tan Angguak agak bisa bercerita lepas. Sebab, ketika itu Ujang Temok belum nampak batang hidungnya di lapau itu. Kesempatan itu digunakan dek Uwo Pulin untuk bercerita tentang gala Sangsako maupun Sako Adat nan lah banyak disandakan pada orang-orang terkenal negeri ini.

“Coba lihat dek angku-angku, kini gala adat kita sudah banyak disandangkan ke orang nan bukan berasal dari nagari kita. Kejadi apa nagari ini lagi, sudah habis gala adat kita dibaok dek urang,” kecat Uwo Pulin bantuk nan tau benar dengan adat.

Kata berjawek gayung pun bersambut. Sam Boya nan agak mengerti sedikit soal adat pun menjawab ; “gala nan diagiskan tu bernama gala Sangsako. Sepanjang ada adat dan suku jo kaum nan mengagiskannya, rasanya bulih-bulih saja kok. Selain itu, pemberian gala Sako Adat-pun dibulihkan, sepanjang batunggua panabangan, ada banda dituruikan aia, ada ingiran sako. Artinya, harus ada kaum atau suku nan mengangkatnya. Inilah nan disebut pantah tumbuh hilang berganti,” kecat Sam Boya.

Di tengah asiknya orang di lapau tu bercerita, tiba-tiba Ujang Temok menampakkan batang hidungnya. Begitu tersirap darah orang di lapau itu. Tapi, dek karena Ujang Temok langsung sata menyorong, agak tenang juga dada orang nan duduk di lapau itu.

“Ambo rasa apa nan dikecekkan dek Sam Boya itu ada benarnya. Sepanjang orang nan diagiskan gala adat itu sumbangsih positifnya cukup berarti dan sudah nampak hasilnya, tak ada salahnya mereka diagis gala. Serupa nan pernah diagiskan ke Sri Sultan Hamengkubuono X, yaitu Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati. Sedangkan bininya Permaisuri GKR Hemas dianugrahkan gala Puan Gadih Puti Reno Indaswari,” kecek Ujang Temok.

Muncung buruk Ujang Temok terus menciracau dan menyebutkan beberapa orang terhormat nan pernah diagis gala, seperti ; Amien Rais degan gala Tuanku Alam Nan Sati, HM Taufik Kiemas dengan gala Datuak Basa Batuah dan Megawati Soekarnoputri dengan gala Puti Reno Nilam, Dr.H Solihin Jusuf Kalla yang bergala Datuak Rajo Penghulu, Surya Paloh dengan gala Tuanku Johan Pahlawan, serta gala untuk Soesilo Bambang Yudhoyono yaitu Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam, dan bininya Ny Ani Yudhoyono mendapat gala Puan Puti Ambun Sari.

“Harusnya angku-angku bangga, sebab tak kesada orang bisa menyandang gala adat itu. Buktinya, angku-angku lihat saja siapa-siapa nan kini menyandang gala itu. Mereka tidak BOB (bukan orang bisa) di negeri kita! Banggalah kita mempunyai ‘mamak’ orang-orang hebat. Tapi, kini nan peralu benar angku-angku pikiakan, bagaimana gala adat kita ini bisa menyebarang tak hanya sampai ke pulau jawa, tapi juga bisa menyeberang sampai ke Amerika,” kecat Ujang Temok berapi-rapi.

“Apa makasud waang Jang,” Tanya Uwo Pulin pula.

Sambil tersenyum Ujang Temok pun menjawab ; “Uwo kan tau kalau Presiden Amerika-Barack Obama begitu dibangga-banggakan dek urang kita, karena dia pernah sikola di negeri kita dulu. Jadi, tak ada salahnya pula bila kita berpikir akan mengagis Barack Obama ini gala adat, biar nak bermamak pula kita di Amerika itu,” kecat Ujang Temok tanpa beban.

Tampaknya, ‘rapat di lapau’ ini setuju dengan ide brilian Ujang Temok. “Kalau serupa ini bentuk-bentuknya, tak ada salahnya kita agis Barack Obama tu gala adat. Bulih tak lantas angan saja orang Amerika itu sama kita. Sebab, presidennya sudah menjadi mamak kita,” kecat kesada orang nan ada di lapau itu.

Kalau ke iya benar ide itu dijalankan, mudah-mudahan saja ‘rapat lapau’ itu tidak hanya sekedar menjadi ‘rapat mancit’ atau ‘rapat karo’. F. Fahlevi